oleh

Puluhan Hektar Tanaman Warga Doitia Hilang Ditelan Bumi

TOBELO – Fenomena likuifaksi atau tanah bergerak terjadi di Desa Doitia Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara (Halut) pada sekitar pukul 03:00 WIT Senin (4/2) lalu. Akibatnya, puluhan hektar tanaman warga rusak terbawah tanah bahkan sebagian hilang tertelan bumi.

Salah satu warga Desa Doitia, Edward Tuyu menjelaskan akibat dugaan likuifaksi terjadi sekitar pukul 03:00 WIT dini hari, tanaman pala dan kelapa miliknya tertelan tanah.

“Saya punya pohon pala 30 pohon dan pohon kelapa hilang tertelan tanah,” kata Edward kepada KabarMalut, Rabu (6/2/2019).

Selain itu, katanya, likuifasi juga menyebabkan tanah di sekitar lokasi kebun mengalami amblas.

“Ada jalan yang menuju kebun juga ambruk sehingga menjadi lubang besar,” ujarnya.

Menurutnya, posis desanya tidak mengalami likuifasi karena jaraknya agak jauh dari lokasi. Namun desanya juga  mengalami musibah banjir yang airnya setinggi lutut orang dewasa.

“Setelah banjir kami membersihkan lupur yang masuk di dalam rumah setebal 30 cm,” bebernya.

Ia menambahkan warga yang lahan kebun mengalami likuifasi sebanyak 50 kepala keluarga (KK) mereka dilarang oleh kepala desa untuk mendekat lokasi kebun karena ditakutkan akan terjadi Likuifasi susulan.

“Sementara ini kami belum ke kebun, ada yang masih takut kejadian susulan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Halut, Sahril Hi Rauf mengatakan telah menerima informasi dari warga yang lahan kebunnya mengalami likuifasi.

“Mereka baru tiba dan menyampaikan peristiwa tersebut, karena kesulitan akses transportasi,” ujarnya.

Setelah menerima informasi adanya likuifasi, DPRD kemudian segera turun ke lokasi bencana untuk melihat langsung akibat dari likuifasi.

“Untuk kerugian belum diketahui pasti karena informasi Kades dan perangkat masih melakukan pendataan,” ujarnya.

Politisi dari Partai Hanura ini memastikan akibat dari likuifasi, warga Doitia mengalami kerugian harta benda berupa kebun pala, cengkeh, kelapa dan tanaman bulanan yang rusak dan sebagian juga sudah hilang tertelan tanah.

“Sekarang ini mereka sementara masuk masa panen cengkeh, tapi pohon cengkeh sudah tertanam dalam tanah,” tandasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan fenomena likuifaksi baru pertama terjadi di Desa Doitia, sehingga warga yang lahan kebun tertimbun tidak berani lagi ke kebun.

“Ada warga yang mengaku trauma dan tidak mau lagi ke kebun, bahkan ada juga kecewa dan tidak berkebun lagi karena untuk menanam pohon pala kembali harus menunggu puluhan tahun,” pungkasnya. (Ajo)

Komentar

Kabar Lainnya