oleh

Gelar Festival Tanjung Waka, Kepsul Angkat Potensi Budaya dan Bahari

-Travel-554 views

SANANA – Provinsi Maluku Utara (Malut) makin serius mengembangkan sektor pariwisatanya. Kali ini Malut kembali bersiap menggelar Festival Tanjung Waka yang akan digelar di Tanjung Waka, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) pada 27-30 Desember 2018.

Acaranya sudah pasti paten, sederet sajian budaya yang padat akan dipersembahkan. Dari mulai Tarian Bela Yai, Tarian Denge, Tarian Laka Baka, hingga Pencak Silat. Selain itu, festival ini menjadi momentum lahirnya Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kepsul.

“Festival Tanjung Waka menjadi sebuah atraksi pariwisata yang semakin berkembang. Festival ini menjadi etalase seni budaya kebesaran Kepulauan Sula. Momentum ini sekaligus kita maksimalkan dengan mengukuhkan GenPI Kepulauan Sula sebagai motor promosi pariwisata kabupaten ini,” ujar Ketua Panitia Festival Tanjung Waka, Syarifudin Koroy.

Festival dengan tujuan mengangkat sektor pariwisata Kepsul yang memiliki potensi menakjubkan ini. Bukan hanya budaya, alamnya pun luar biasa, terlebih lagi potensi Baharinya.

“Kepualauan Sula adalah surga tersembunyi. Potensi besar alam dan budaya yang dimilikinya menjadi sebuah modal yang patut diperhitungkan. Ini yang akan kita angkat dalam festival ini,” imbuhnya.

Keindahan alam Kepsul tak diragukan lagi, terutama Tanjung Waka berada pada titik paling selatan Pulau Sanana. Dari spot ini wisatawan akan disajikan fenomena alam yang luar biasa ketika bulan purnama.

Di tempat ini, wisatawan dapat menyaksikan bulan purnama terbit dan matahari terbenam sekaligus. Tanjung Waka juga memiliki pantai pasir putih sangat memikat yang panjangnya sekitar 7 KM.

Belum lagi alam bawah lautnya yang kaya, dive sitenya cukup banyak. Sebab berada di wilayah segi tiga karang dunia (coral triangle) membuat Kepsul menjadi spot incaran diver dunia. Keanekaragaman hayatinya tinggi dan sangat terjaga.

“Visibility nya tinggi, sekitar 20 meter, dengan temperature air yang hangat yaitu sekitar 26 hingga 29 derajat celcius. Pokoknya bakal ketagihan menyelam di Kepulauan Sula,” bebernya.

Lantas bagai mana aksebiltasnya? Tidak perlu khawatir, akses menuju Kepsul cukup mudah. Ada dua moda transportasi yaitu dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandara Sultan Babullah Ternate dan menggunakan kapal laut dari Ternate.

“Perjalanannya cukup singkat, sekitar 1,5 jam dengan pesawat terbang,” paparnya.

Soal penginapan wisatawan juga tak perlu khawatir, terdapat sejumlah penginapan seperti hotel bintang satu dan homestay sudah tersedia. Tarifnya cukup murah, hanya sekira Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sudah dapat beristirahat dengan nyaman.

Hal ini membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya langsung angkat jempol. Menteri yang baru saja terpilih sebagai The Best Marketing Minister of Tourism Of ASEAN dari Philip Kotler itu memuji keseriusan Malut untuk mengangkat pariwisatanya.

“Atraksi-atraksi seperti ini harus terus dikembangkan, tetapi ingat ini juga harus didukung promosi yang gencar. Ini bisa dikolaborasian dengan GenPI. Kalau soal potensi saya sudah tidak ragu lagi. Malut itu gerbang bahari Indonesia Timur. Surga bahari Indonesia,” ujar Menpar Arief. (rdx)

Komentar

Kabar Lainnya