oleh

Harga Kopra Mengeksploitasi Perempuan

-OPINI-1.564 views

Oleh : Asterlita T. Raha

(Kabid. Akspel GMKI Cab. Tondano & Anak Petani KOPRA)

“Bumi, air, perempuan dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dimonopoli untuk kemakmuran penguasa”

INDONESIA adalah salah satu Negara produsen kopra terbanyak di dunia, luas tanaman kelapa pada tahun 2016 sekitar 3,6 juta hektar dengan produksi 3,2 juta setara kopra, dimana lebih dari 98% diusahakan oleh perkebunan rakyat yang tersebar hampir di seluruh wilaya Indonesia. Salah satunya Maluku Utara.

Maluku utara merupakan salah satu daerah penghasil kopra dan merupakan salah satu produk unggulan pertanian. Pada tahun 2015 berdasarkan Balai Pusat Statistik (BPS) Maluku utara, luas perkebunan kelapa mencapai 147.733 hektar dengan jumlah produksi 231.619 ton.

Awal tahun 2018 komoditi kopra mengalami penurunan harga dipengaruhi oleh mekanisme pasar global, dari Rp. 9.000,00;- Rp. 5.500,00; per kilogram; kemudian mempengaruhi kondisi perekonomian masyarakat Maluku utara.

Dilansir dari Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku utara, terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin pada tahun 2018. September 2017 sebesar 78,28 ribu orang (6,44 persen) menjadi 81,46 ribu orang (6,64 persen) bertambah sekitar 3,2 ribu orang di 2017. Data ini membuktikan bahwa komoditi kopra sangatlah memegang peranan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Akhir-akhir ini berbagai tuntutan muncul di setiap kabupaten menuntut agar pemerintah memberikan solusi terkait dengan harga kopra yang menurun secara signifikan. Berbagai gagasan disampaikan bahwa pemerintah tidak dapat menginterfensi harga, sebab mekanisme pasar global.

Namun pemerintah adalah merupakan pelaksana amanat untuk mensejaterahkan rakyatnya sehingga telah menjadi tugas dan tanggungjawab untuk mengurusi segala persoalan rakyat termasuk petani kopra; pasal 33 UUD tahun 1945  secara tegas melarang adanya penguasaan sumber daya alam di tangan orang ataupun seorang. Dengan kata lain monopoli tidak dapat dibenarkan dalam praktek pengelolaan sumber daya alam karena bertentangan dengan prinsip pasal 33.

Turunnya harga kopra sangat berdampak buruk bagi perempuan, mengapa demikian.? Provinsi Maluku Utara adalah salah satu daerah yang masih kental akan paham patriarki, di mana laki-laki masih begitu mendominasi sektor-sektor strategis (public) sedangkan perempuan lebih banyak mengurusi ranah domestik atau menjadi ibu rumah tangga (IRT), mengelolah segala kebutuhan konsumtif mulai dari makanan, pakaian, dll yang secara langsung erat kaitannya dengan pasar.

Pada agustus 2018 Badan Pusat Statistik mencatat, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Perempuan Maluku utara adalah 49,78 % sedangkan laki-laki mencapai 80,04% dari TPAK Maluku utara sebesar 66,76%. Itulah mengapa jika harga kopra menurun dengan kisaran RP.2000,00; per kilogram (daerah Loloda dan sekitarnya) maka dipastikan penjajahan bagi petani kopra nyata dan melegitimasi eksploitasi bagi perempuan.

Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat di urusan konsumtif dan sebagai pelayan yang mengurusi segala kebutuhan suami, anak mertua bahkan dirinya sendiri.  Salah satunya perempuan desa, citra atau pelebelan halus dan ketelatenan menjadi ciri khas perempuan yang dijadikan alasan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan marginal sehingga perempuan dalam pekerjaan hanya dijadikan sebagai pencari nafkah tambahan dan bukan pencari nafkah utama. Inilah yang memperkokoh kekuasaan laki-laki, bahkan Negara yang seolah-olah adalah maskulin pun ikut menjadi pelaku kesewenang-wenangan bagi perempuan.

Catatan Tahunan Komnas HAM sekitar 300 ribu lebih kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan diantarannya didominasi oleh Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pemicu terbesar adalah persoalan ekonomi. Persoalan ekonomi sangat mengeksploitasi perempuan sebab perempuan dikonstruksi hanya mampu melakukan pekerjaan marginal.

Demikian menjual tubuh pun adalah halal jika perut keroncongan menyanyikan lagu kelaparan, usus sebagai seruling memikat  saat akal tak lagi mampu berkompromi. Mungkin kisah Tuty yang mati di Arab akan terulang di lembaran sejarah perempuan.

Mengenangkan ibu

Adalah mengenangkan buah-buah

Istri adalah makanan utama

Pacar adalah lauk pauk

Dan ibu adalah pelengkap sempurna

Kenduri besar kehidupan

Sajak Ibunda

Perempuan berdikarilah sebab tubuhmu bukan ladang tambang eksploitasi serta segala akumulasi kekuasaan dan LAWAN segala bentuk monopoli yang menempatkanmu dalam titik nadir kehidupan.(UserStory)

Komentar

Kabar Lainnya